
Ketika alam masih asyik dengan ‘candaannya’ yang cukup menggelikan isi jidat, matahari yang suka petak umpet, gerimis yang tak mau kalah saing dengan hujan, sama-sama membuat diri sibuk dengan urusan mantel atau jas hujan karena aktivitas tak pernah berkompromi dengan cuaca. Semuanya tetap mengalir dan tak pernah secanda hujan dan kabut di sepanjang Februari tahun ini.
Sebagai seorang yang menjalani rutinitas sebagaimana yang terjadwal sekali lagi tanpa kenal yang namanya kompromi, apapun keadaannya atau situasinya, kita tetap mengayuh dalam ritme jam yng terus berdetak maju. Waktu terus berdetak, aktivitas pun terus berdenyut.
Kali ini, tepat pada hari kedua dari pekan terakhir bulan Februari tahun ini yakni Selasa/24/02/2026, di dalam ruangan yang polos, waktu seakan-akan bertengkar dengan jari-jari tangan serta mata yang terus menjarah berbagai aplikasi berseliweran pada layar laptop yang telah tersindrom oleh jaringan internet yang tak terkepung lagi kekuatannya.
‘Pertarungan’ ini kami narasikan lewat sebuah Musyawarah Guru Mata Pelajaran yang mendatangkan 2 tutor yang boleh dibilang sangat lihai pada bidangnya masing-masing yakni bapak Albert Kabung dan bapak Sarifudin. Kedua sosok tersebut bagi kami para guru akrab disapa sebagai bapak-bapak pengawas. Tetapi hemat saya sapaan demikian justru memunculkan kesan kaku hingga beku karena akan memunculkan perilaku yang terkesan formalitas semata. Dan semua guru pasti tahu, kira-kira apa hal wajib yang disiapkan sebelum mereka tiba di sekolah. Dengan begitu, menyapa dan menyambut mereka sebagai pendamping yang professional akan dirasa lebih cair dan menyenangkan tentunya.
Kehadiran kedua pendamping sekaligus tutor tersebut di tengah keadaan cuaca yang mendung dan lembab, serta profesi guru-guru di sekolah yang masih paceklik dengan pengetahuan dan keterampilan pedagogis di era digital, bagaikan jembatan yang mendatangkan harapan baru.
Bapak Albert Kabung melalui pemaparan materinya yang penuh dengan petuah dan motivasi yang mendalam, bahkan dengan gaya yang cukup nyentrik, lihai dalam mengembalikan eksistensi guru dalam konteks zaman yang sudah hampir tidak jinak lagi. Paparan materinya sangat paradigmatik yakni berupaya mempertanyakan siapa dan bagaimana menjadi guru di abad sekarang.
Kemudian bapak Sarifudin secara rinci membahas tentang standar profesi guru melalui Permen-permen terbaru, serta memperkenalkan kepada semua guru yang hadir berbagai macam fitur-fitur digital yang sangat mendukung dalam keseluruhan proses pembelajaran. Salah satu yang menarik adalah bagaimana guru hendaknya terlatih dan terbiasa hingga akrab dengan ‘kecanggihan’ kecerdasan buatan, agar tidak tertinggal jauh dengan arus perputaran zaman. Dari gaya serta bahasa-bahasa teknis yang dilontarkannya memunculkan kesan bahwa beliau memang sangat mahir dengan dunia digital, multitasking, network, AI, multiverse dan lain sebagainya.
Hingga tanpa terasa waktu pun kembali memainkan perannya sebagai pemberi jeda dari keseluruhan agenda kegiatan, topik demi topik, suasana demi suasana yang kami alami dan lalui bersama dari pagi hingga sore. Tentu yang sulit untuk disembunyikan adalah tubuh yang sudah mulai tidak mempan untuk didoping oleh sekedar kopi panas serta camilian yang ada. Dengan demikian, di penghujung rangkaian MGMP, terbersit harapan agar sekiranya seluruh poin dan hal bermakna yang diendapkan hari ini, benar-benar bertumbuh dan berdampak secara positif baik itu bagi guru maupun bagi siswa di sekolah. “Akhirnya kami menolak untuk tertinggal”.
Tinggalkan Komentar