Info Sekolah
Rabu, 01 Apr 2026
  • Situs Resmi SMAN 3 Macang Pacar
  • Situs Resmi SMAN 3 Macang Pacar
5 Juni 2025

Sayap yang Tersisa

Kam, 5 Juni 2025 Dibaca 1672x Cerpen

Teresa Avela)*

“Aku beranjak dari gubuk kecil tanpa diiringi senyuman dan pelukan hangat itu, namun aku hanya membayangkannya melalui imajinasiku”.

Seorang gadis yang hidup diantara banyaknya kekacauan dunia kini tumbuh menjadi gadis dewasa.

Pagi-pagi benar, ia tersadar dari tidur lelapnya lalu bergegas menuju meja makan.

Di sana ia melihat meja yang masih kosong, tidak seperti biasanya.

Semakin ia menatap meja itu, air matanya semakin tak bisa terbendung lagi, ia pun tak langsung melaksanakan tugasnya sebagaimana biasanya yakni memasak melainkan berdiri kosong, membiarkan udara pagi melahap pori-pori kulitnya. Lalu, sejenak ia menolehkan pandangannya pada sosok yang kini terbaring hening di balik nisan ber segi panjang di samping rumah.

Beberapa menit kemudian, dia pun lekas beranjak menuju tungku api, dan mulai melaksanakan tugasnya untuk memasak.

Air matanya terus menetes disaksikan langsung oleh pijaran api yang baru saja disulutnya dari dalam tungku.

Ia memastikan pekerjaan paginya itu mesti beres lebih cepat, sebab di hari itu ia harus mengikuti ujian akhir sekolah.

Sekedar memastikan juga untuk kedua adiknya yang masih tertidur mendapatkan sarapan pagi yang sudah disiapkannya.

Jarum jam telah mengisyaratkannya untuk segera ke sekolah.

Saat ia hendak melangkahkan tanpa sengaja matanya  melihat teman angkatannya sedang berpamitan dengan kedua orang tuanya dengan penuh hangat dan kasih sayang.

Sungguh membuat hatinya kembali tertikam pilu.

Namun apa boleh buat, sebisa mungkin ia harus kuat dan tegar, sebab masih ada dua sosok yang harus dijaganya yakni adiknya sendiri.

Ketika sudah sampai di sekolah, ia segera masuk ke dalam kelas, lalu menyiapkan segala sesuatu sebelum ujian di mulai.

Ketika ujian sudah dimulai, ia mengerjakan soal-soal yang ada dengan tenang, konsentrasinya hanya pada lembaran soal dan kertas berisi jawaban yang telah disiapkan oleh sekolah.

Dan hari itu pula merupakan hari terakhir dia bersama dengan teman seangkatannya berada di sekolah tersebut.

Setelah selesai, ia dan kawan-kawan angkatannya merayakan hari terakhir mereka di sekolah.

Berbagai perasaan saling bertumpah ruah, ada yang berpelukan, menangis bahkan tertawa ihwal langkah perjuangan selama 3 tahun sudah hamper usai.

Tiga tahun dalam nuansa perjuangan dan kasih sayang dari bapak ibu guru yang mereka ilhami bersama membuat mereka merasa seolah-olah takut akan kehilangan.

Saat itu pun, gadis itu sedikit tersentuh oleh sebuah kalimat yang terlontar dari seorang pendidik ketika ia memintanya untuk mengabadikan momen bersama “nak, hari ini belum bisa foto bersama, kita mengadakan foto bersama saat kabar lulus nanti”.

Dengan agak kecewa ia tertunduk malu dan membiarkan maksud di balik itulah yang menjawabnya.

Sedangkan yang lain sudah mulai berpawai ria, gadis itu pun lebih memilih untuk pulang lebih dulu ke rumah.

Sesampai di rumah sunyi sepi yang ia rasakan kedua adiknya sedang bermain di rumah keluarga.

Sekali lagi dalam keheningan siang itu, batinnya kembali tersedu-sedu menatap nisan ayahnya yang membisu.

Sungguh menyedihkan, ia melalui momen hari itu tanpa sosok yang dikagumi itu. Ia pun hanya bisa bergeming tanpa menuntut jawaban apapun.

Hingga tak disadari, jam pun menunjukkan pukul 13:00, ia berjalan menuju ruangan tamu dia melepaskan putih abunya dengan terburu-buru.

Sebab ia harus menyiapkan diri untuk mengikuti acara perpisahan bersama dengan teman-temannya.

Ia pun sudah bertekad untuk memilih merantau lebih cepat tanpa perundingan dengan keluarga dekatnya.

Sebenarnya ia ingin segera menghindar dari lingkungan yang menyakitkan dan mencari ketenangan di dunia lain meskipun itu sangat menyakitkan baginya.

Keesokan harinya ia tiba di suatu kota di mana ia bertemu dengan seseorang yang ia anggap sebagai tulang punggung keluarga yaitu kakaknya. Adalah sosok yang kini menjadi inpirasi baginya, karena telah berhasil menunjukkan peran dari seseorang yang kini telah tiada.

Waktu terasa begitu singkat hingga jam berangkat ke perantauan pun tiba. Gadis itu pun segera berangkat menuju pelabuhan bersama dengan sang kakak. Ia pun tak urung membiarkan momen keberangkatan tersebut berlalu begitu saja.

Ia berharap, agar momen-momen penuh krusial dalam hidupnya itu patut untuk diabadikan, agar kelak akan dikenang sebagai bagian dari bab tersulit dalam buku kehidupannya.

Akan tetapi, sekali lagi niatnya itu terpaksa dibatalkan, tersebab keterlambatan mereka tiba di pelabuhan. Yang memaksanya justru tergesa-gesa naik ke tangga kapal, tanpa berpamitan yang hangat dengan kakak yang mengantarnya.

(Tuhan sesingkat inikah waktu yang kau berikan untuk saya,ini terlalu sakit tuhan engkau tahu bahwa waktu tidak akan bisa diputar kembali namun kenapa Engkau tak membiarkan aku menikmati kebahagiaan barang sebentar saja). Rintihnya dalam hati.

Hingga begitu saja situasi yang dihadapinya, ia pun terpaksa berlayar bersama dengan perasaannya yang kian berkecamuk.

Seakan-akan lautan luas serta riak-riak ombak tak cukup untuk menampung semua yang dirasakannya.

Dan di sepanjang pelayaran itu, ia pun belajar untuk mengikhlaskan segala yang terjadi.

Ia mencoba melepaskan semua kesedihan hatinya bersama hembusan angin yang kencang dan membiarkan semua penyesalannya tenggelam bersama dengan senja di ufuk barat.

***

Tak terasa setahun sudah gadis itu mengadu hidup ditanah rantau. Begitu banyak hal yang ia belajar dan banyak hal baru yang ia temukan.

Ia mulai menjadi gadis yang tegar dan kuat melawan getir, dengan suasana yang agak berbeda di tempat pengembaraannya itu.

Ia pun bersyukur, karena di sana ia bertemu dengan orang-orang yang mampu menghangatkan kembali seluruh perasaannya.

Ia berjumpa dengan orang yang mampu menerima dirinya apa adanya, bahkan menjadikannya sebagai bagian dari keluarga mereka.

Sungguh, ia menyadari bahwa semuanya itu adalah cinta dan kasih Tuhan yang tak berhingga.

Bahwa Tuhan tak pernah membiarkan gadis itu tenggelam dalam pekatnya kemalangan.

Akan tetapi, meskipun kini ia terlahir kembali sebagai sosok yang tegar dan ceria, namun dalam lubuk kecilnya ia selalu merindukan ibunya di kampung halaman tercinta.

Ia pun coba melampiaskan rindunya via telepon.

Mereka pun saling bersua secara virtual. Lewat layar kecil itu, ia melihat warna rambut ibunya sudah mulai putih.

“Ibu rambutnya diwarnai pake warna hitam biar makin cantik”, candanya yang hanya dibalas dengan senyuman yang penuh makna dari sosok yang dirindukannya itu.

Ibu itu bukan canda aku nggak mau ibu cepat tua sebelum aku sukses,aku ingin melihat rambutmu tak beruban dan kulitmmu tak berkeriput”, sahutnya dalam hati.

***

Apakah untuk mendapatkan bahagia itu perlu kehilangan?”

Hingga akhirnya, gadis itu pun sudah tak tahan lagi untuk membagikan semua perasaan hatinya itu kepada kakaknya yang kini sudah mulai mapan dengan pekerjaannya.

Ia pun coba menghubungi kakaknya itu lewat WA:

kak selamat pagi bolehkah saya meminta waktunya sebentar saja, saya ingin menceritakan sesuatu dan saya butuh motivasi dari kakak.

Lalu tak lama kemudian ia mendapatkan balasan dari kakaknya

Boleh adek, kamu pake ketik saja soalnya kakak lagi kerja…

Gadis itupun mulai mengetik panjang.

Kemarin saya telpon dengan ibu, kak semakin hari ibu semakin tua dan aku agar ibu tetap muda. Sekarang kakak sudah mulai mapan dengan pekerjaannya meskipun tanpa sosok sang ayah. Aku tidak ingin hal serupa akan terjadi lagi. Apakah aku boleh nyerah nggak kak? aku tidak mau untuk mencapai kesuksesan itu dengan mengorbankan orang yang kita sayangi khususnya ibu. Kak, aku mau untuk terus bersama ibu sampai hari tuanya. Semua mimpi dan cita-citaku seakan-akan tak berguna bila kehilangan sosok yang kita sayangi. Aku tidak mau kehilangan siapapun lagi. Karna takdir selalu menentang semua yang kita raih. Bahwa semakin kita kejar kesuksesan itu maka akan semakin banyak kehilangan yang harus kita relakan dan aku tidak mau itu terjadi, biarkanlah kakak saja yang berhasil meraih mimpi aku hanya ingin menemani ibu, sudah cukup kita kehilangan satu sayap dan biarkan aku untuk menjaga sayap yang tersisa itu.

Setelah sekian menit berselang, WA balasan pun muncul “dek, kakak belum seutuhnya sukses kakak masih punya tanggung jawab terhadap kalian sebagai adik,dan kakak nggak mau kamu nyerah kakak yakin kamu kuat dek,jangan biarkan kakak menangis disini cukup dek”.

Gadis itu pun langsung terdiam dan hanya menjawab singkat “iya kak maaf, nggak usah dilanjutin lagi”.

***

Akhirnya, gadis itu pun menyadari bahwa hidup adalah tentang mengikhlaskan dan merelakan, semakin kita mengejar sesuatu maka kita juga siap untuk merasakan kehilangan. Saya ingin menjalani hari-hari bersama walaupun dalam hal sederhana, Tuhan bolehkah saya menyerah untuk kali ini? Tuhan saya tidak mau menjadi orang sukses jika di balik itu saya harus merayakan kehilangan.

***

Itulah secarik kisah dari si gadis yang selalu dihantui oleh perasaannya sendiri. Berulangkali hatinya dihadang oleh ketakutan akan kehilangan yang kedua kalinya hingga membuatnya kehilangan arah dan harapan dalam untuk melanjutkan langkah.

Akan tetapi, bagaimana pun juga, ia yakin dan percaya bahwa di balik kehilangan ada sesuatu yang baru yang membuatnya merasa bahagia kembali meskipun dengan cara yang sukar sekalipun.*

*Teresa Avela merupakan alumni SMAN 3 Macang Pacar, kini mengadu hidup di pulau Jawa.

Artikel Lainnya

Oleh : Admin

Hati Buta

Oleh : Admin

Belajar

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pos Terbaru

Bulan Februari, Cinta dan Kenangan
3 mingguyang lalu
Cinta
1 bulanyang lalu
Menolak Untuk Tertinggal
1 bulanyang lalu
JEJAK BAHASA JEJAK PEMUDA
4 bulanyang lalu
Sayap yang Tersisa
10 bulanyang lalu
Puisi-puisi Yonasta Sartika Jia
1 tahunyang lalu
Antara Februari, Hujan dan Guru-Guru yang HOTS
1 tahunyang lalu

Info Sekolah

SMA Negeri 3 Macang Pacar

NPSN 69971705
Desa Wontong, Wontong, Kec. Macang Pacar, Kab. Manggarai Barat Prov. Nusa Tenggara Timur.
TELEPON 082138787541
EMAIL sman3macangpacar@gmail.com
WHATSAPP 082138787541