“Tanpa rencana, kehidupan mempertemukan aku dengan seseorang yang mampu menghargai ku.”
Kisah ini dimulai saat aku kelas sepuluh, masa di mana semuanya terasa baru dan penuh rasa penasaran. Aku mulai jatuh cinta dengan seorang murid pindahan bernama Dito. Hubungan kami awalnya terlihat sangat indah. Setiap hari di sekolah selalu bertemu. Hari-hari dipenuhi tawa, pesan singkat tanpa henti, dan janji untuk selalu bersama. Aku merasa menemukan seseorang yang membuatku bahagia.
Namun, semakin lama hubungan kami berubah. Pertengkaran kecil mulai sering terjadi. Kata-kata yang dulu terasa indah perlahan menjadi menyakitkan. Hubungan kami berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Selama aku menjalin hubungan dengannya, waktu belajarku berkurang, nilai-nilai yang dulu membanggakan mulai menurun.
Di tengah semua itu, aku bertemu seseorang teman yang kemudian menjadi sahabatku. Namanya Sonya. Menariknya, Sonya adalah pacar dari teman dekat pacarku. Tanpa direncanakan, aku dan Sonya sering berbagi cerita. Ternyata, kisah kami hampir sama. Sonya juga sedang mempertahankan hubungan yang penuh luka, berharap semuanya akan membaik meski kenyataannya tidak.
Hari-hari pun berlalu, dan rasa lelah itu akhirnya mencapai batasnya. Aku yang sudah lelah dengan sikap pacarku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Pada waktu yang hampir bersamaan, Sonya pun memilih berpisah dari pacarnya. Keputusan itu tidak mudah, tetapi kami tahu bahwa bertahan dalam hubungan yang menyakitkan bukanlah jalan yang benar.
Sejak saat itu, aku dan Sonya tetap bersama bukan sebagai teman dari pasangan kita, melainkan sebagai sahabat. Kami saling menguatkan, saling mendengarkan, dan perlahan belajar mencintai diri sendiri. Persahabatan kami tumbuh dan menjadi tempat pulang yang sederhana.
Waktu terus berjalan. Kelas sepuluh pun berakhir, berganti dengan kelas sebelas yang membawa harapan baru. Entah apa yang kami pikirkan waktu itu, kami sepakat untuk tidak terburu-buru menjalin hubungan lagi. Hari-hari tanpa pacar ternyata tidak sesepi yang kami bayangkan. Justru di situlah kami menemukan banyak tawa, hati yang lebih tenang, dan persahabatan yang semakin kuat.
Dan kelas sebelas pun berakhir. Tanpa rencana, kehidupan mempertemukan aku dengan seseorang yang mampu menghargai ku. Seseorang yang hadir dengan tenang, sesuai dengan harapan yang selama ini aku harapkan. Sonya pun menemukan seseorang yang memperlakukannya dengan lembut, tanpa drama dan tanpa luka seperti masa lalu. Hubungan kali ini terasa berbeda. Dan sampai hari ini, aku dan Sonya masih menjalin hubungan kami dengan pasangan masing-masing.*
)* Tentang Penulis: Kristina B. Anjilina biasa disapa Anye, sekarang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir. Memiliki bakat bermain peran dan menari.
Tinggalkan Komentar